Ringkasan Acara setelah Hijrah

0
164

Tahun pertama Hijrah

1. Segera setelah Nabi saw. Mencapai Madinah, ia membangun masjid untuk sholat. Dindingnya terbuat dari lumpur dan atapnya terbuat dari batang pohon kurma.

2. Sampai saat itu hanya ada dua rakasa wajib (unit shalat) untuk siang (Dhuhr), shalat siang (‘Ashar) dan malam ((Isha); tetapi sejak saat itu empat rakaat diwajibkan untuk tiga waktu sholat ini.

3. Perjanjian dibuat dengan orang-orang Yahudi dan suku-suku tetangga untuk perdamaian dan keramahan.

4. Ikatan persaudaraan dikembangkan antara Muhajireen (Muslim emigran) Mekah dan orang-orang Madinah, yang disebut Ansar (pembantu). Orang-orang Ansar lebih mencintai orang Mekah daripada saudara-saudara mereka dan mengizinkan mereka untuk berbagi harta mereka dengan persyaratan yang setara.

Tahun ke-2 Hijrah

1. Panggilan rutin untuk doa mulai diperhatikan.

2. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mengubah arah shalat dari Yerusalem ke Ka’bah di Mekah.

3. Puasa di bulan Ramadhan dibuat wajib.

4. Pertempuran Badr terjadi.

Tahun ke-3 Hijrah

1. Zakat (hak orang miskin) dibuat wajib, yaitu, setiap Muslim kaya diharuskan memberi 1/40 dari kekayaannya setiap tahun untuk dibagikan kepada orang miskin.

2. Pertempuran Uhud terjadi.

Tahun ke-4 Hijrah

– Anggur dilarang keras.

Tahun ke 5 Hjjrah

1. Wanita diwajibkan mengenakan Jilbab.

2. Pertempuran Khandaq terjadi.

3. Pertempuran Khaibar terjadi.

Tahun ke-6 Hijrah

Nabi berjalan menuju Makkah untuk Umrah, tetapi ketika ia mencapai titik di mana ia berada 14 mil jauhnya dari Mekah, orang Quraish tidak akan mengizinkannya untuk melangkah lebih jauh. Nabi berhenti di sana, dan selama tinggal di sana, sebuah perjanjian dibuat antara Quraish dan Muslim tentang hal-hal berikut:

1. Damai dipertahankan selama sepuluh tahun dan perjalanan dan transaksi harus dioperasikan secara bebas. Setiap suku harus diizinkan untuk bergandengan tangan dengan kaum Muslim atau kaum Quraish.

2. Orang-orang Muslim diizinkan untuk salat di Ka’bah tahun berikutnya.

3. Jika seseorang dari Quraish menerima Islam dan menghubungi Nabi dia akan dikirim kembali ke Quraish, tetapi jika seorang Muslim meninggalkan Islam dan pergi ke Quraish, dia tidak akan dikirim kembali. Orang-orang Muslim tidak menyukai hal ini, tetapi Nabi menerima kondisi ini juga.

Orang Quraish berpikir bahwa tidak ada orang yang mau menerima Islam mengingat kondisi ini.

Ketika perjanjian sedang disusun, Abu Jandal, putra Suhail (yang datang untuk menegosiasikan perjanjian untuk orang-orang Mekah) sudah menjadi seorang Muslim, tetapi ia ditahan di dalam kurungan oleh suku tersebut. Namun, begitu dia mendapat kesempatan, dia melarikan diri sementara kakinya masih dirantai.

Suhail menuntut umat Islam untuk menyerahkan putranya sesuai dengan ketentuan perjanjian.

Umat Islam menolak untuk bertindak berdasarkan ketentuan perjanjian karena belum ditandatangani oleh mereka pada waktu itu. Suhail menjadi marah dan mengatakan kepada Muslim bahwa mereka tidak akan membuat perjanjian.

Nabi menyerahkan Abu Jandal kepada mereka. Abu Jandal dikembalikan ke kurungan. Sementara dia ditahan di Mekah, dia mengajarkan orang-orang prinsip-prinsip dasar Islam. Sebagai hasil dari ajaran, seratus orang memeluk Islam dalam waktu satu tahun di Mekah itu sendiri.

Setiap orang yang memiliki akal sehat dapat memahami dari fakta ini bagaimana ketulusan Nabi dan kebaikan agama Islam memikat hati, meskipun banyak kesulitan yang harus dihadapi orang ketika menerima Islam. Mereka menderita perpisahan dari orang-orang dekat dan tersayang, jarak dari tanah kelahiran mereka, takut disiksa dan dipenjara. Namun, semua ini tidak dapat menghalangi orang untuk menerima Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here